Gesang dan "Bengawan Solo": Ketika Satu Lagu Mengelilingi Dunia
Kisah seorang musisi otodidak dari Solo yang tak bisa membaca not, tapi menulis melodi yang dikenal lintas benua.
Redaksi The Journey · 18 Agustus 2026

Ada lagu-lagu yang lebih besar daripada penciptanya — melintasi bahasa, laut, dan generasi, sampai orang lupa siapa yang pertama menuliskannya. "Bengawan Solo" adalah salah satunya. Dan di baliknya ada sosok yang hidupnya sendiri adalah sebuah perjalanan sunyi yang layak dikenang: Gesang Martohartono.
Anak Solo yang jatuh miskin
Gesang lahir pada 1917 di Surakarta — kota yang akrab disebut Solo, di Jawa Tengah. Masa kecilnya sempat berkecukupan; ayahnya punya usaha batik. Tapi usaha itu bangkrut saat ia masih remaja, dan keluarganya jatuh ke dalam kemiskinan.
Ia tak pernah mengenyam pendidikan musik formal. Bahkan, sepanjang hidupnya, ia tak bisa membaca not balok. Yang ia punya hanya telinga, perasaan, dan kegigihan. Untuk menyambung hidup, ia menyanyi dan menciptakan lagu untuk acara-acara kecil di kampung — pesta pernikahan, hajatan, pertemuan warga.
Satu lagu, di usia dua puluh tiga
Pada 1940, di usia dua puluh tiga tahun dan dalam keadaan serba kekurangan, Gesang menciptakan sebuah melodi — konon ditiupkannya lewat seruling — dalam gaya keroncong, musik kota yang sedang populer saat itu. Lagu itu ia persembahkan untuk sungai yang ia kenal sejak kecil: Bengawan Solo, sungai terpanjang di Pulau Jawa.
Liriknya sederhana: tentang sungai yang mengalir, musim yang berganti, air yang akhirnya sampai ke laut. Tapi dalam kesederhanaan itu ada sesuatu yang menyentuh siapa pun — rasa rindu, rasa mengalir, rasa pulang. Tanpa ia sadari, ia baru saja menulis sesuatu yang akan hidup jauh lebih lama dari dirinya.
Perjalanan sejauh dunia
Yang terjadi kemudian nyaris seperti dongeng. "Bengawan Solo" tak berhenti di Solo. Ia menyebar ke seluruh Indonesia, lalu menyeberang lautan. Di Jepang, lagu ini menjadi sangat dicintai dan dinyanyikan ulang oleh banyak penyanyi; dari sana ia terus mengalir ke berbagai penjuru Asia. Sebuah melodi yang lahir dari seorang pemuda miskin di tepi sungai Jawa, akhirnya dikenal dan dinyanyikan oleh orang-orang yang bahkan tak berbahasa Indonesia.
Sepanjang hidupnya yang panjang — ia wafat pada 2010 di usia 92 tahun — Gesang menulis relatif sedikit lagu, hanya sekitar dua puluh lima judul dalam rentang tujuh puluh tahun. Tapi ia membuktikan bahwa nilai sebuah karya tak diukur dari jumlahnya. Satu lagu, bila cukup jujur dan cukup dalam, bisa mengalahkan waktu.
Yang bisa kita bawa pulang
Kisah Gesang menolak banyak alasan yang sering kita pakai. Tak punya pendidikan musik? Ia tak bisa membaca not. Tak punya uang atau koneksi? Ia menulis lagu itu dalam kemiskinan. Tak punya panggung besar? Ia mulai dari hajatan kampung.
Yang ia punya hanya kesungguhan dan kejujuran — dan ternyata itu cukup untuk mengirim sebuah lagu mengelilingi dunia.
Di The Journey, kami percaya bahwa suara besar berikutnya mungkin sedang bermain di suatu tempat yang kecil dan tak terduga, sama seperti seorang pemuda di tepi Bengawan Solo delapan puluh tahun lalu. Tugas kita hanyalah mau mendengarkan.